Mungkin teman-teman 2011 udah mulai pada bosen denger kata-kata ini.
E-sen-si.
Jujur, gue termasuk tipe orang yang suka (atau mungkin keseringan?) mempertanyakan berbagai hal. As an INTJ, rasanya sering banget gue nanya 'is it make sense?', atau 'maksudnya apaan sih ginian?', semacam itu lah ya. Jujur lagi, berapa kali gue kecewa sama kegiatan-kegiatan semacam ini yang pernah gue alami dulu. Emang sih jadi seru ada ceritanya, tapi kalo dipikir-pikir sebenernya ada gunanya nggak sih? Hahaha, mungkin juga karena gue sebenernya orang yang ngotot banget yah. Things don't affect me unless I let them do so (and also God let them do so). Sering banget rasanya gue nanya 'apa gunanya?', 'buat apa?', 'ngapain sih ngelakuin ginian?', dsb. Yayaya, banyak yang bilang kalo gue terlalu banyak mikir, I overanalyzed many things in my life.
Dan sekarang sepertinya gue kembali melakukan hal yang sama.
Kaderisasi mungkin udah bukan kata yang aneh bagi sebagian dari kita, meskipun mungkin banyak yang mengenalnya dengan nama-nama yang lain. Ospek, MOS, yah apapun itu lah. Mungkin dua hal di atas lebih umum dikenal sebagai proses Orientasi kali yah, meskipun buat gue rasanya dua hal itu mungkin hampir gabisa dipisahkan. Dalam proses penanaman nilai-nilai dan pembentukan karakter, mau tak mau kita juga memperkenalkan mereka pada suatu hal yang baru. Seringkali gue ngerasa, proses Orientasi itu nggak guna. No offense yah, tapi dari pengalaman pribadi gue, materi Orientasi seringkali terasa 'ngawang' (atau mungkin gue yang terlalu ngotot?) dan segala pretelan aksesoris di dalamnya semacam kuncir tiga ataupun aksesoris konyol terasa cuma kayak iseng-isengan panitia. Indonesia itu negara yang budaya seniortasnya udah ngedarah daging deh kayaknya. Or at least, seperti itu di beberapa tempat yang gue tahu. Berkali-kali gue nanyain 'apa maknanya?', 'apa esensinya?".
Berkali-kali.
Dan kali ini, pada awalnya, gue juga kembali melakukan hal tersebut. Kembali mempertanyakan segala maksud di balik segala tindakan, fenomena, dan kejadian. Kembali menjadi seseorang yang merasa ini semua hanya formalitas semata, dan segala apa di dalamnya hanyalah bullshit.
Sampai ketika proses overanalyzing gue berhenti pada satu titik.
Satu titik bahwa, ternyata, apa yang gue lakukan ini bener-bener ada esensinya.
Mungkin caranya nggak selalu enak, mungkin suasananya nggak selalu nyaman. Tapi, satu hal yang gue yakini, ini semua bukan cuma permainan semata. Percaya deh, kita semua udah dewasa kok, dan kita semua punya cara pikir yang setidaknya dapat dikatakan logis dan rasional. Nggak ada konyol-konyolan demi mengikuti kehendak salah satu pihak. Di sini bukan tentang memenangkan ego seseorang, ataupun satu kelompok. Ini bukan tentang seberapa banyak memori yang dapat kita simpan dan seberapa baik kita dalam menghapal. Ini bukan tentang suatu pihak melakukan pelampiasan luapan emosi. Ini bukan tentang kita yang selalu salah, tentang kita yang tak pernah benar. Ini bukan kita yang dipaksa menanggung kesalahan orang, ini bukan kita yang dituntut menjadi sempurna disetiap saat.
Ini tentang kita, yang dituntut untuk menjadi lebih kuat dan lebih baik, karena kita lebih dari sekedar kita yang sekarang.
Kita memang perlu kok semua ini. Sudah jadi kewajiban dasar kita untuk tahu, mengerti, dan paham akan hal-hal ini. Bahkan sebenarnya, tanpa disuruh pun sebenarnya kesadaran itu sudah harus ada. Sayangnya, kesadaran itu seringkali nggak tumbuh secara otomatis dalam diri kita. Butuh sedikit dorongan, dan banyak usaha. Dan mungkin, gue termasuk salah dalam salah satu dari sekian orang yang membutuhkan hal-hal tersebut.
Semangat yah teman-teman, gue tahu kok kalian capek, kesel, dan banyak banget yang pengen pulang kembali ke rumah. Gue juga merasakan hal yang sama kok. Mungkin satu dua kali kebawa emosi. Mungkin kadang nggak bisa ngontrol diri. Mungkin kadang ngedumel sendiri.
Tapi percaya, dengan akal yang sehat, esensi itu akan muncul dengan sendirinya.
Selami. Nikmati. Ikutin flownya.
Berusahalah melakukan yang terbaik. Bukan karena disuruh, bukan supaya kita bisa jawab kalau kita udah ngelakuinnya, bukan supaya kita nggak kena marah, bukan supaya kita lepas dari konsekuensi dan hukuman.
Tapi karena kita ngelakuinnya dengan hati, karena kita sadar itu memang sudah kewajiban kita dari awalnya.
Tentu saja dalam perjalanan ini nggak ada yang sempurna. Siapapun bisa salah, entah dari pihak mana saja. Kita semua manusia kok, dan kemungkinan-kemungkinan rasanya selalu terbuka untuk terjadi. Dunia ini dinamis, bukan statis. Kita mungkin bukan orang suci yang bisa lepas dari dosa, tapi kita bisa jadi orang baik yang ikhlas memaafkan atau dengan tulus meminta maaf. Nggak ada yang bilang semua jalan ini itu gampang, tapi tahu kan lebih worth it yang mana?
Semoga niat dan semangat ini nggak sekedar momental saja. Kuat menggebu-gebu, lalu hilang ditelan angin.
Jalan masih panjang, Teman.


