Thursday, May 31, 2012

Esensi

Mungkin teman-teman 2011 udah mulai pada bosen denger kata-kata ini.

E-sen-si.

Jujur, gue termasuk tipe orang yang suka (atau mungkin keseringan?) mempertanyakan berbagai hal. As an INTJ, rasanya sering banget gue nanya 'is it make sense?', atau 'maksudnya apaan sih ginian?', semacam itu lah ya. Jujur lagi, berapa kali gue kecewa sama kegiatan-kegiatan semacam ini yang pernah gue alami dulu. Emang sih jadi seru ada ceritanya, tapi kalo dipikir-pikir sebenernya ada gunanya nggak sih? Hahaha, mungkin juga karena gue sebenernya orang yang ngotot banget yah. Things don't affect me unless I let them do so (and also God let them do so). Sering banget rasanya gue nanya 'apa gunanya?', 'buat apa?', 'ngapain sih ngelakuin ginian?', dsb. Yayaya, banyak yang bilang kalo gue terlalu banyak mikir, I overanalyzed many things in my life.

Dan sekarang sepertinya gue kembali melakukan hal yang sama.

Kaderisasi mungkin udah bukan kata yang aneh bagi sebagian dari kita, meskipun mungkin banyak yang mengenalnya dengan nama-nama yang lain. Ospek, MOS, yah apapun itu lah. Mungkin dua hal di atas lebih umum dikenal sebagai proses Orientasi kali yah, meskipun buat gue rasanya dua hal itu mungkin hampir gabisa dipisahkan. Dalam proses penanaman nilai-nilai dan pembentukan karakter, mau tak mau kita juga memperkenalkan mereka pada suatu hal yang baru. Seringkali gue ngerasa, proses Orientasi itu nggak guna. No offense yah, tapi dari pengalaman pribadi gue, materi Orientasi seringkali terasa 'ngawang' (atau mungkin gue yang terlalu ngotot?) dan segala pretelan aksesoris di dalamnya semacam kuncir tiga ataupun aksesoris konyol terasa cuma kayak iseng-isengan panitia. Indonesia itu negara yang budaya seniortasnya udah ngedarah daging deh kayaknya. Or at least, seperti itu di beberapa tempat yang gue tahu. Berkali-kali gue nanyain 'apa maknanya?', 'apa esensinya?".

Berkali-kali.

Dan kali ini, pada awalnya, gue juga kembali melakukan hal tersebut. Kembali mempertanyakan segala maksud di balik segala tindakan, fenomena, dan kejadian. Kembali menjadi seseorang yang merasa ini semua hanya formalitas semata, dan segala apa di dalamnya hanyalah bullshit.

Sampai ketika proses overanalyzing gue berhenti pada satu titik.

Satu titik bahwa, ternyata, apa yang gue lakukan ini bener-bener ada esensinya.

Mungkin caranya nggak selalu enak, mungkin suasananya nggak selalu nyaman. Tapi, satu hal yang gue yakini, ini semua bukan cuma permainan semata. Percaya deh, kita semua udah dewasa kok, dan kita semua punya cara pikir yang setidaknya dapat dikatakan logis dan rasional. Nggak ada konyol-konyolan demi mengikuti kehendak salah satu pihak. Di sini bukan tentang memenangkan ego seseorang, ataupun satu kelompok. Ini bukan tentang seberapa banyak memori yang dapat kita simpan dan seberapa baik kita dalam menghapal. Ini bukan tentang suatu pihak melakukan pelampiasan luapan emosi. Ini bukan tentang kita yang selalu salah, tentang kita yang tak pernah benar. Ini bukan kita yang dipaksa menanggung kesalahan orang, ini bukan kita yang dituntut menjadi sempurna disetiap saat.

Ini tentang kita, yang dituntut untuk menjadi lebih kuat dan lebih baik, karena kita lebih dari sekedar kita yang sekarang.

Kita memang perlu kok semua ini. Sudah jadi kewajiban dasar kita untuk tahu, mengerti, dan paham akan hal-hal ini. Bahkan sebenarnya, tanpa disuruh pun sebenarnya kesadaran itu sudah harus ada. Sayangnya, kesadaran itu seringkali nggak tumbuh secara otomatis dalam diri kita. Butuh sedikit dorongan, dan banyak usaha. Dan mungkin, gue termasuk salah dalam salah satu dari sekian orang yang membutuhkan hal-hal tersebut.

Semangat yah teman-teman, gue tahu kok kalian capek, kesel, dan banyak banget yang pengen pulang kembali ke rumah. Gue juga merasakan hal yang sama kok. Mungkin satu dua kali kebawa emosi. Mungkin kadang nggak bisa ngontrol diri. Mungkin kadang ngedumel sendiri.

Tapi percaya, dengan akal yang sehat, esensi itu akan muncul dengan sendirinya.

Selami. Nikmati. Ikutin flownya.

Berusahalah melakukan yang terbaik. Bukan karena disuruh, bukan supaya kita bisa jawab kalau kita udah ngelakuinnya, bukan supaya kita nggak kena marah, bukan supaya kita lepas dari konsekuensi dan hukuman.

Tapi karena kita ngelakuinnya dengan hati, karena kita sadar itu memang sudah kewajiban kita dari awalnya.

Tentu saja dalam perjalanan ini nggak ada yang sempurna. Siapapun bisa salah, entah dari pihak mana saja. Kita semua manusia kok, dan kemungkinan-kemungkinan rasanya selalu terbuka untuk terjadi. Dunia ini dinamis, bukan statis. Kita mungkin bukan orang suci yang bisa lepas dari dosa, tapi kita bisa jadi orang baik yang ikhlas memaafkan atau dengan tulus meminta maaf. Nggak ada yang bilang semua jalan ini itu gampang, tapi tahu kan lebih worth it yang mana?

Semoga niat dan semangat ini nggak sekedar momental saja. Kuat menggebu-gebu, lalu hilang ditelan angin.

Jalan masih panjang, Teman.

Wednesday, May 9, 2012

Err....

Media_httpd24w6bsrhbe_yhmbi

Tapi kok gue dengerin Nyancat kalau belajar menambah efek ketenangan dan keproduktivitasan -__-"

Monday, May 7, 2012

Introducing Yul

Screen_shot_2012-05-07_at_10
Jadi, berhubung ada yang ngaku abis ngepoin blog ini, maka dengan bangga saya perkenalkan, sang gadis kepo......
Dsc_3286_copy

Eksploitasi Pipi

Nama: Yulia Lie Yanda

Panggilan: Yulia, Yul, Kim-Kim, dst 

NIM: 16211153

TTL: Siak Sri Inderapura, 18 Juli 1994

Berawal dari kenal di twitter, lalu sekelas pas matriks, dan jadwal dua semester ini pun hampir bisa dikatakan 90% selalu barengan. Anak yang satu ini beberapa kali gue seret menemani gue pergi karena random ('Yul ke Sugarush yuk!', 'Yul nonton Hunger Games yuk!'). Yul ini adalah seorang gadis yang pintar (IP-nya tinggi lho saudara-saudara, pernah ikut OSN Matematika juga), rajin (orang-orang masih leha-leha dia udah ngerjain jurnal praktikum sampai jurnal ketiga, belum dikasih perintah ngerjain tugas kidas eh dia udah ngerjain duluan terus tahunya soalnya beda sama yang dia perkirakan), taat beribadah (kalau hari Minggu pagi rajin ke Vihara), aktif di KMB (kalau nggak salah jadi Bendahara, tapi lupa Bendahara di KMBnya atau untuk PPAB aja) dan juga di SF (kadiv Internal dan juga salah satu admin twitternya @farmasiITB_2011 -berdua bareng gue menghidupkan lagi twitter SF yang sempat mati suri, tapi bedanya dia admin yang baik sementara gue cenderung nyampah kalo ngadmin-) dan single *tenonenonenonet*. Bagi yang berminat berkenalan, silahkan mention di @yulialieyanda (twitter tidak diprotect).

Salah satu hal yang khas dari Yul adalah pipinya. Iya, pipinya. Pipinya sangat minta untuk dicubit, dan memang enak untuk dicubit (kenyel-kenyel gimana gitu, makannya gue kasih julukan semilipid). Pipinya ini merupakan kemiripian utamanya dengan adik bungsunya yang bernama Bill, yang sangat dia sayang banget. Yul juga jahil. Dia pernah bikin Jo hampir nangis gara-gara bilang kalau nilai kidas semester I Jo jelek dan harus ikut UAS (gue masih ada bukti bbmnya). Dan Yul ini orangnya gelian banget, dengan pinggang sebagai daerah kelemahannya. Cukup tekan pinggang bagian samping dengan satu jari dan gadis ini akan berteriak kencang. Pernah suatu hari di kelas Kalkulus yang sedang senyap, waktu Pak Oki lagi cerita soal teka-teki dan lagi ngomong bagian 'ditemukan mayat di rel kereta api', Yul tiba-tiba teriak dengan kencang sampai satu kelas nengok. Bukan, bukan karena takut. Tapi karena dia abis disenggol Devin.

Kira-kira, begitulah sekilas cerita tentang seorang Yulia Lie Yanda. Akhir kata, Yul merupakan seorang teman yang baik dan menggemaskan (pipinya).

523040_3828982083403_1243377261_4822270_895963263_n

 

Gabrielle

Media_http24mediatumb_pgmtq

'But I am everything, everything you want me to be.'

I still remember it clearly. The smell of fresh snows, the cold weather of winter. The hot caramel that you always drink from that big brown mug, and thousands of canvas that were hanging in your room. All of them were wet, with the hint of of oil colors' smell. Gabrielle, I still remember it. I still remember how your eyes see anything as if anything is magical, as if anything is a wonder that never stop to amaze you. The stories you tell, about unicorns, about fairies, about fantasies. As if they were real, and to you they will always be real. How you always believe in your dreams, how you always believe in beautiful words they serve you. And promises. And vows.

I know because we made one ourselves.

But Gabrielle, I still also remember. I still also remember how reality broke you down. I still also remember how you finally let yourself wake up, and how longing you were for an escape. If there is one thing that is so contagious that it may become a weakness, then for you it is hope. You were desperate, so desperate for a miracle that you were willing to do anything.

We were young, we were naive. We were mad, and we were crazy.

If there will ever be a story about us, thousands of books won't even be able to cover it. Songs cannot describe it, and photographs don't even capture it.

The smiles. The laughter. The tantrums. And the screams that follow.

Gabrielle. Je vous prie.

Erase it all as if nothing ever really happened.

As if we were never hurt.

1. -

'Remember me?'

...

'I was once meant everything to you.'

I bet it's funny, how it all started. But t's even funnier that I can't even remember anything. The words keeps playing in my head, like a broken tape that rolls over and over. I don't know whose voice does it belongs to, the man who talks in my dream. But I know that should have known him, that he is someone familiar. Perhaps he is someone from my old life, someone from my past. That, if I really have a past.

'Remember me?' he asked, but the tone of his voice is as if he's not asking a question that he wants to know the answer of. As if he is asking a questions he truly knows the answer.

'I was once meant everything to you.' continued him. And he meant it. I don't know why, but I know that he meant it. He was once everything to me, everything. I could still feel the control that his voice have over my body. How my knees became so weak and my head got so dizzy. How I started to hear all those instuments playing out of nowhere. How suddennly everything became so dark.

How I woke up.

It kills me. It kills me that I don't know who I am, and that I don't even know my name. Don't ask me where is this, because I don't even have any decent idea about what is this place. Don't ask me any questions, because the questions I ask myself has not even find any of it aswers yet.

And it kills me the most, the man in my dream.

The voice that haunts me.

But I am going to find out what really is happening. I am going to find out who I am, I am going to find out who I was. I am going to find out what kind of game is I am in now, the game that I don't even think I would join in the first place.

And I am going to find it all out.

Alive.

Monday, April 30, 2012

Untitled

Where have I been lately?

Sebenernya semalem gue sudah menyelesaikan sautu postingan, tapi entah kenapa mungkin saking errornya pikiran di tengah malam, jadinya postingan tersebut melayang entah kemana. Seperti biasa, hari-hari gue masih sibuk dengan urusan dunia perkuliahan, baik akademis maupun non-akademis. Rasanya kata-kata 'kampusku rumahku' itu bener-bener terbukti yah, karena hampir tiada hari tanpa ke kampus, entah untuk urusan apa aja.

April adalah salah satu bulan terhectic dan terberkesan di tahun 2012, at least for now. Ada Sikrab SF yang super seru, dan sukses bikin ngakak seharian karena kelakuan-kelakuan dan quotes-quotes yang bertebaran. Ada Pagelaran TW 41, yang sukses menyita waktu tapi worth it lha yah. Mungkin bukan yang pertama, dan mungkin bukan venue terajaib, tapi terima kasih karena sudah memberi pengalaman baru yang keren dan orang-orang baru. Ada UTS, tugas, dan segala macamnya tentu saja.

April juga punya kenangan buruk. First time experience yang menuntut gue pada suatu penemuan yang tidak begitu menyenangkan, and the fact that in this month, I am finally saying goodbye to one thing. Berat, tentunya. Tapi setidaknya gue melakukan ini dnegan cara yang bisa terbilang proper, and the only thing I could do know is wishing all of us the best we could get.

On a lighter note, I'm back on tumblr. Mungkin karena ketularan melihat orang-orang di sekitar yang aktif di dunia tumblr, gue jadi ikut-ikutan ngetumblr lagi. It's not much, really. Tapi entah kenapa sepertinya gue lebih lancar mengepost tulisan random sehari-hari di sana. So for a better glimpse of how I've been these days (as if someone is really reading this, tapi yah siapa tahu ada yang pengen tahu), go check my tumblr. You can easily find the addres in this posterous, so you do the math. I'll still write and post things on this posterous though. There is a reason why autpost option does exist.

Minggu ini adalah minggu terakhir proses belajar mengajar di Semester ini. Aura kemalasan mulai menyeruak, diikuti oleh aura liburan dan aura-aura lainnya. Let's hope that the rest of this year (and also the upcoming years), will be splendid.

Cheers!

 

 

Nadia